Jam 16:40, langit Joglo masih terang tapi udara sudah mulai dingin tipis, tanda sore mau turun. Aku dan Ziah menata barang-barang ke motor buat pindahan kosan Ziah dari Joglo ke Sukabumi Selatan. Nggak banyak drama, tapi Aku tau apa yang dirasakan oleh Ziah: capek sepulang kerja, deg-degan, dan ada sedikit sedih karena beberapa sudut kosan di Joglo jadi “kenangan terakhir” sebelum ditinggal oleh penghuninya.
Kami cuma sekali jalan selama kurang lebih 15 menit pakai motor, jadi semuanya harus rapi dan aman. ada yang ditumpuk di bagian depan, tas juga digendong rapat, barang yang rawan pecah (Akuarium kesayangan Ziah) dipeluk Ziah. Ziah berkali-kali nanya, “Udah yakin aman? jangan terlalu cepat jalannya ya Kak, Ziah takut jatuh ke belakang”. Aku cuma ketawa dan bilang aman, padahal dalam hati mikir hal yang sama. Di momen begini aku agak sedikit menyadari bahwa pindahan itu bukan cuma mindahin barang, tapi mindahin beberapa hal yang Ziah jalani kedepannya: kebiasaan, suasana, dan ritme hidupnya.
Sebelum benar-benar beranjak malam, jam 17:00 kami mampir ke FamilyMart Joglo. Niatnya sederhana: nyoklat dan makan. Tapi entah kenapa, tempat yang biasa itu jadi terasa spesial. Kami duduk, ngelurusin napas, dan saling cerita hal-hal kecil yang biasanya kelewat karena keburu kerja atau keburu pulang. Ziah bercerita banyak hal tentang kehidupan keluarganya, aku beberapa kali terpesona lihat senyum tulus Ziah. Dari senyum itu aku merasa hari-hari jadi lebih ringan.
Jam 18:00, kami lanjut beli ikan di toko ikan hias Pak Samadi. Suasana tokonya khas: bunyi air, pantulan lampu di akuarium, ikan-ikan kecil yang gerakannya tenang tapi nggak pernah berhenti. Ziah sempat lama berdiri di depan salah satu akuarium, matanya fokus, lalu bilang, “Aku pengin ikan yang warna biru tapi enggak ada”. Aku ngangguk ke Ziah kasih tanda biar beli yang ada aja.
Sudah adzan maghrib, jam 18:15 kami cari masjid dekat kosan Ziah. Kami sholat di Masjid Jami Nurul Yaqin. Momen maghrib itu jadi jeda yang paling terasa: sunyi yang menenangkan, doa yang sederhana, dan rasa syukur yang nggak perlu dijelaskan panjang-panjang.
Jam 18:30, kami berhenti di Alfamart Haji Tohir, Sukabumi Selatan. Nggak ada agenda besar: cuma ngobrol aja. Tapi justru di kesederhanaan itulah yang menjadi lengkapnya hari. Kami bahas pindahan, bahas Grand Opening tempat kerja Ziah yang baru, bahas rencana kecil dan lain-lain. Ziah cerita hal-hal yang dia pikirin, aku sebagai pendengar yang baik juga balas dengan hal-hal yang sama. Di bawah lampu minimarket, duduk di kursi depan yang sederhana, obrolan kami jadi sempurna, tentang sesama perantau yang harus saling jagain agar tetap waras.
Jam 19:45, waktuku untuk pamit, sekitar 15 menit perjalanan ke tempat kerjaku. Jam 20:00, aku masuk shift malam. Mesin kerja mulai jalan, ritme kerja mengambil alih. Tapi di sela-sela itu, aku sempat cek ponsel: ada pertanyaan dari Ziah singkat “Udah sampai Kak?”, kemudian obrolan terus berlanjut via Chat. Cerita ini bukan soal pindahan, FamilyMart, ikan, atau Alfamart semata.
Ini kisah tentang dua orang yang sama-sama punya urusan hidup, tapi tetap nyempetin saling menemani. Tentang perjalanan yang kelihatannya biasa, tapi diam-diam jadi penanda: kita sedang bertumbuh bareng, pelan-pelan, dan tetap saling menguatkan. :)
Comments
Post a Comment