Jam 16:40, langit Joglo masih terang tapi udara sudah mulai dingin tipis, tanda sore mau turun. Aku dan Ziah menata barang-barang ke motor buat pindahan kosan Ziah dari Joglo ke Sukabumi Selatan. Nggak banyak drama, tapi Aku tau apa yang dirasakan oleh Ziah: capek sepulang kerja, deg-degan, dan ada sedikit sedih karena beberapa sudut kosan di Joglo jadi “kenangan terakhir” sebelum ditinggal oleh penghuninya. Kami cuma sekali jalan selama kurang lebih 15 menit pakai motor, jadi semuanya harus rapi dan aman. ada yang ditumpuk di bagian depan, tas juga digendong rapat, barang yang rawan pecah (Akuarium kesayangan Ziah) dipeluk Ziah. Ziah berkali-kali nanya, “Udah yakin aman? jangan terlalu cepat jalannya ya Kak, Ziah takut jatuh ke belakang” . Aku cuma ketawa dan bilang aman, padahal dalam hati mikir hal yang sama. Di momen begini aku agak sedikit menyadari bahwa pindahan itu bukan cuma mindahin barang, tapi mindahin beberapa hal yang Ziah jalani kedepannya: kebiasaan, suasana, dan ritme ...
"Semua tentang Universitas Terbuka"
by Tantowi